Jumat, 20 September 2013

SEL

Teori Sel
Pada tahun 1665, Robert Hooke mengamati sayatan gabus dari batang Quercus suber menggunakan mikroskop. Ia menemukan adanya ruang-ruang kosong yang dibatasi dinding tebal dalam pengamatannya. Robert Hooke menyebut ruang-ruang kosong tersebut dengan istilah cellulae artinya sel. Sel yang ditemukan Robert Hooke merupakan sel-sel gabus yang telah mati. Sejak penemuan itu, beberapa ilmuwan berlomba untuk mengetahui lebih banyak tentang sel.

Ilmuwan Belanda bernama Antonie van Leeuwenhoek (1632–1723) merancang sebuah mikroskop kecil berlensa tunggal. Mikroskop itu digunakan untuk mengamati air rendaman jerami. Ia menemukan organisme yang bergerak-gerak di dalam air, yang kemudian disebut bakteri. Antonie van Leeuwenhoek merupakan orang pertama yang menemukan sel hidup.
Perkembangan penemuan tentang sel mendorong berkembangnya persepsi tentang sel. Dari sinilah kemudian lahir teori-teori tentang sel. Beberapa teori tentang sel sebagai berikut.
a.      Sel Merupakan Kesatuan atau Unit Struktural Makhluk Hidup
Teori ini dikemukakan oleh Jacob Schleiden (1804–1881) dan Theodor Schwan (1810–1882). Tahun 1839 Schleiden, ahli botani berkebangsaan Jerman, mengadakan pengamatan mikroskopis terhadap sel tumbuhan. Pada waktu yang bersamaan Theodor Schwan melakukan pengamatan terhadap sel hewan. Dari hasil pengamatannya mereka menarik kesimpulan sebagai berikut.
1.      Tiap makhluk hidup terdiri dari sel.
2.      Sel merupakan unit struktural terkecil pada makhluk hidup.
3.      Organisme bersel tunggal terdiri dari sebuah sel (uniseluler), organisme lain yang tersusun lebih dari satu sel disebut organisme bersel banyak (multiseluler).
b.      Sel Sebagai Unit Fungsional Makhluk Hidup
Max Schultze (1825–1874) menyatakan bahwa protoplasma merupakan dasar fisik kehidupan. Protoplasma bukan hanya bagian struktural sel, tetapi juga merupakan bagian penting sel sebagai tempat berlangsung reaksi-reaksi kimia kehidupan. Berdasarkan hal ini muncullah teori sel yang menyatakan bahwa sel merupakan kesatuan fungsional kehidupan.
c.       Sel Sebagai Unit Pertumbuhan Makhluk Hidup
Rudolph Virchow (1821–1902) berpendapat bahwa omnis cellula ex cellulae (semua sel berasal dari sel sebelumnya).
d.      Sel Sebagai Unit Hereditas Makhluk Hidup
Ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong penemuan unit-unit penurunan sifat yang terdapat dalam nukleus, yaitu kromosom. Dalam kromosom terdapat gen yang merupakan unit pembawa sifat. Melalui penemuan ini muncullah teori bahwa sel merupakan unit hereditas makhluk hidup. Penemuan-penemuan yang mendukung perkembangan teori sel sebagai berikut.
1.      Robert Brown (1812), Biolog Skotlandia, menemukan benda kecil terapung dalam cairan sel yang ia sebut nukleus.
2.      Felix Durjadin (1835), beranggapan bahwa bagian terpenting sel adalah cairan sel yang sekarang disebut protoplasma.
3.      Johanes Purkinye (1787–1869), orang pertama yang mengajukan istilah protoplasma untuk menamai bahan embrional sel telur.

Sel Hewan dan Sel Tumbuhan


Sel Hewan
Sel Tumbuhan
1. Tidak memiliki dinding sel
2. Tidak memiliki plastida
3. Memiliki lisosom
4. Memiliki sentrosom
5. Timbunan zat berupa lemat dan glikogen
6.  Bentuk tidak tetap
7. Pada hewan tertentu memiliki vakuola, ukuran kecil dan sedikit
1. Memiliki dinding sel dan membran sel
2. Umumnya memiliki plastida
3. Tidak memiliki lisosom
4. Tidak memiliki sentrosom
5. Timbunan zat berupa pati
6. Bentuk tetap
7. Memiliki vakuola ukuran besar, banyak

Bagian-bagian Sel dan Fungsinya
1.      Retikulum Endoplasma (RE)
Jejaring kantong dan tabung bermembran; aktif dalam sintesis membran dan proses sintesis serta proses metabolik lain; memiliki wilayah kasar (tertanami libosom) dan halus.
2.      Nukleus
a.       Selaput nukleus
Membran ganda yang meyelubungi nukleus; berpori-pori; bersambungan dengan RE.
b.      Nukleolus
Struktur yang terlibat dalam produksi ribosom; nukleus memiliki satu atau lebih lebih nukleolus.
c.       Kromatin
Materi yang terdiri dari DNA dan protein; tampak sebagai kromosom individual ketika sel membelah
3.      Sitoskeleton
Memperkuat bentuk sel, berfungsi dalam pergerakan sel; komponennya terbuat dari protein. Mencakup: Mikrofilamen, Filamen intermediat, Mikrotubulus.
4.      Mitokondria
Organel tempat respirasi seluler terjadi dan sebagian ATP dihasilkan.
5.      Membran plasma
Membran yang melindungi sel
6.      Aparatus Golgi
Organel yang aktif dalam sintesis, modifikasi, pemilahan, dan sekresi produk-produk sel.
7.      Lisosom
Organel pencerna tempat makromolekul dihidrolisis/
8.      Ribosom
Kompleks (titik-titik cokelat kecil) yang membuat protein; bebas dala sitosol atau berkaitan dengan RE kasar atau selaput nukleus.
9.      Peroksisom
Organel dengan berbagai berfungsi metabolik terspesialisasi; menghasilkan hidrogen peroksida sebagai produk sampingan; kemudian mengubahnya menjadi air.
10.  Mikrovili
Penjuluran yang meningkatkan luas permukaan sel
11.  Sentrosom
Wilayah tempat mikrotubulus sel bermula; mengandung sepasang sentriol (fungsi belum diketahui)
12.  Flagela
Organel lokomosi yang ada pada beberapa sel hewan; tersusun atas kumpulan mikrotubulus di dalam penjuluran membran plasma.
13.  Dinding sel
Lapisan yang mempertahankan bentuk sel dan melindungi sel dari kerusakan mekanis; terbuat dari selulosa, polisakarida lain, dan protein
14.  Vakuola sentral
Organel menonjol pada sel tumbuhan tua, berfungsi antara lain dalam penyimpanan, pengurai zat sisa, hidrolisis makromolekul; pembesaran vakuola adalah mekanisme utama pertumbuhan tumbuhan.
15.  Kloroplas
Organel fotosintetik; mengubah energi cahaya matahari menjadi energi kimia yang tersimpan dalam molekul gula.
16.  Plasmodesma
Saluran yang menembusdinding sel yang menghubungkan sitoplasma pada sel-sel yang bersebelahan

Referensi:
Campbell Neil A. : Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1, Jakarta: Erlangga, 2010
Villee Claude A. : Zoologi Umum Edisi Keenam Jilid 1, Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 1984
http://www.plengdut.com/2013/01/sejarah-penemuan-sel.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar